Rabu, 30 April 2008

BCL di"goyang" Wartawan


Intermezzo (berisi: cuplikan kehidupan selintas)

Beberapa hari terakhir ini, Bunga Citra Lestari (BCL) digoyang para pemburu berita. Untunglah BCL salah satu manusia tangguh, sehingga goyangan para wartawan itu tidak sanggup "menggoyahkan" nya.

Memang setelah BCL memerankan adegan-adegan mesra dalam film terbarunya, para wartawan jadi "sewot" melihat keberanian (baca: profesinalisme - katanya loh) yang ditunjukkan BCL, para wartawan jadi penasaran - apakah BCL putus dengan pacarnya dari negeri jiran itu, sehingga berani seperti itu.

Bunga ... Bunga ... , kamu selalu menggoda para wartawan, rupanya kamu suka yach digoyang para wartawan ... ha ... ha ... ha ...

Selasa, 29 April 2008

Senandung Cinta Yang Tak Masuk Akal

Selingan ( berisi: hal yang menohok jiwaku - yang terjadi di depan mataku)

Malam ini aku sedang memelototi sebuah sinetron remaja, dengan harapan menemukan sedikit oase yang bisa menyejukkan jiwa.

Semula aku cukup menikmati "kebohongan" di tabung kaca di depanku. Tetapi pada akhirnya aku jadi merenung sendiri manakala menyaksikan lika-liku cinta seorang gadis ramaja, yang menurutku belum pantas untuk memerankan adegan-adegan senandung cinta.

Tapi itulah yang terjadi di dunia sinetron bangsa kita. Cerita cintanya begitu dasyat, padahal pemerannya masih berbau kencur. Siapa yang salah? Yang jelas aku tidak bersalah ... ha ... ha ... ha …///////

Dawai Pilu

Selingan (berisi: hal yang menohok jiwaku - yang terjadi di depan mataku)

Kemarin hatiku bergejolak manakala melihat seorang nenek tua diseret polisi pamongpraja. Memang si nenek seorang pengemis yang suka bertengger di lampu merah (NLP = Nenek Lampu Merah ... ha ... ha ... ha ...), yang kurang enak dipandang.

Mendengar erangan si nenek hatiku tak kuat rasanya, ingin hati menolong dia, tapi apa daya, saya sendiri tak tahu harus bagaimana. Konon katanya mereka dibawa ke "Rumah Pembinaan" depertemen sosial.

Dengan tatapan mataku yang sedikit digelayuti air mata, aku hanya bisa berdoa - agar kiranya ada jalan keluar buat si nenek itu. Memang warna/i kehidupan di sekitar kita seringkali membuat kita "prihatin" tapi kadangkala kita sendiri tak berdaya. Sekali lagi - entah harus berbuat apa dan bagaimana?

Sketsa hidup si nenek itu ternyata adalah dawai pilu, yang merobek dan membuat luka batin.

Minggu, 27 April 2008

Cemburu Itu Datang Juga

Roy, sebut saja demikian nama seorang pemuda yang datang berkonsultasi pada saya. Dengan agak malu-malu (entah kucing, kambing, kebo, atau apalah ...) dia mulai menceriterakan permasalahannya. Ternyata pemuda ini diserang penyakit kaum muda yang paling umum dan sering dijumpai, alias sakit hati karena melihat "kedekatan" kekasihnya dengan salah seorang temannya.

Ingin marah tapi ndak enak hati, tetap diam - gejolak jiwa kian membuncah, bahkan terasa seperti ada sayatan yang kian membesar.

Dengan senyum di kulum, saya coba "menghibur"nya. Bahwa apa yang dialami dan dirasakannya adalah sesuatu yang wajar, bahkan sangat wajar. Itulah rasa cinta, itulah warna kehidupan anak manusia yang memasuki akil balik. Lalui saja dengan apa adanya dan bersikap tenang agar tidak timbul rasa marah ataupun benci. Bila sudah tak tahan dengan perasaanmu, maka temuilah kekasihmu dan diskusikan secara baik-baik. Berusahalah mendapatkan jalan keluar yang tidak merugikan semua pihak, tetaplah menghargai pribadi masing-masing, dan jangan coba memaksakan kehendak. Karena setiap manusia (pribadi) memiliki keunikan, karakteristik, kepribadian yang khas, yang tidak dimiliki orang lain. Percayalah bahwa masa muda adalah masa emas - inilah waktu bagi kaum muda untuk berinteraksi dengan lingkungan dan segala jenis perilaku. Berbagai gaya, pola, cara, kebiasaan - berbeda - pada setiap orang. Karena itu belajarlah atas hidup ini selagi kita masih muda. Agar kita bijak dikemudian hari.

"MASA MUDA ADALAH TITIK AWAL MENUJU KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA, KARENA ITU KENALILAH KEHIDUPAN INI AGAR KELAK JADI BIJAK DAN BERBAHAGIA"

Tekanan yang Meradang


Suatu ketika seorang gadis manis berwarna kulit kuning langsat dating berkonsultasi. Sepintas melihat wajahnya – nampakseperti tidak ada beban atau masalah yang menggelayuti hidupnya. Tetapi ternyata benarlah ungkapan “dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu (bukan tempe ha … ha … ha …).

Hal itu terbukti ketika kira-kira 3 menit kami melewati basa-basi dan sekadar pendahuluan, tiba-tiba dia berteriak sangat keras. Sontak saya terkejut dan bergerak secara refleks – untung saja tak ada yang melihat keterkejutanku, bila ada yang melihat pasti terpingkal-pingkal (minimal tersenyum geli). Ternyata di dalam hatinya telah membuncah tekanan yang telah meradang dan sangat menyakitkan.

Pasalnya; dia ditekan oleh kedua orang tuanya untuk segera berpisah dengan pacarnya. Sementara pada saat itu dia sedang berbadan dua alias HAM (Hamil Akibat Mesum, he … he … he …). Dan juga dia sangat mencintai pacarnya itu (ia dong kalo nggak cinta mana mau dihamili). Padahal orang tuanya mengetahui kehamilannya itu, tetapi mereka tidak mau peduli, karena mereka sangat tidak menyukai kekasihnya itu.

Menghadapi kenyataan demikian, maka menurut gadis itu, jalan terbaik adalah bunuh diri – tak ada jalan yang lain. Sontak saya terkejut tapi tidak refleks seperti tadi. Untunglah dia sempat “sharing” dengan temannya dan disarankan bertemu dengan saya. Karena itu dia datang mohon bantuan untuk mencari jalan keluar yang lain (maklum kerjaan sayakan pembantu).

Singkat cerita, saya berusaha menyadarkannya dan mengingatkan bahwa apa yang telah terlanjur terjadi atas dirinya memang merupakan suatu kesalahan jika dipandang dari nilai-nilai moral dan agama yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat kita. Kamu harus menerima kenyataan itu dan segala konsekuensinya. Tetapi di balik semua itu, ada jalan keluarnya. Ada cahaya yang siap menerangi kehidupanmu. Kamu harus mengakui kesalahanmu dan memohon ampun pada Tuhan (bertobat), dan pada kedua orang tuamu. Semoga ketenangan akan mampir dalam jiwamu. Soal Kedua orang tuamu, nanti akan saya temui dan coba berdiskusi dengan mereka.

Ada 3 kali pertemuan konsultasi dengan gadis itu, dan 2 kali berdialog dengan kedua orang tuanya. Untunglah (puji syukur kepada Allah) semuanya berjalan baik dan “hapy ending”.

Ketika tulisan ini dibuat, gadis itu telah menikah dan direstui oleh orang tua mereka (kedua belah pihak), dan bahkan dia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang cakep – mirip dengan saya. Maaf maksud saya mirip dengan bapaknya dong.

“SELAMA MASIH ADA ANGIN YANG BERHEMBUS, MAKA AWAN HITAMPUN MASIH DAPAT TERSINGKIR”

Ketika Dia Pergi

Suatu malam, kira-kira jam 20.30 - saat saya sedang santai menonton TV - menjelang bobo, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata seorang ibu muda berusia kira-kira 30 tahunan datang untuk berkonsultasi.

Setelah saling mengenal dia mulai bercerita tentang apa yang dialaminya. Ada 2 hal yang menjadi inti dari ceritanya. Pertama, dia ditinggal oleh suaminya dan kini mengikuti wanita lain di kota yang lain dan sudah berlangsung selama 3 bulanan (qwacian dech lu ... ... sori). Kedua, dia kebingungan untuk memenuhi biaya hidupnya dan kedua anak mereka. Sebab selama ini segalanya bergantung dari suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik. Di pabrik itulah suaminya bertemu dengan wanita itu, dan kini mereka telah pergi ke kota yang lain.

Kedua hal itu sangat membebani hidupnya, sehingga berat badannya telah susut kurang lebih 12 kg. Dia sangat terpukul, sakit hati dan menjadi putus asa. Kadang terbersit dibenaknya untuk mengakhiri saja hidupnya, tetapi bayang-bayang kedua anaknya selalu menghantuinya, sehingga selalu niat itu terhempas dari benaknya.

Kami sempat tatap muka konsultasi selama 7 kali (bukan karena dia manis dan cukup menarik, tapi - kan udah tugas gue ... he ... he ... he ... ). Dan pada intinya saya mengingatkannya bahwa hidup ini memiliki nilai yang sangat tinggi, karena itu dia harus menghargai kesempatan ini selagi masih diizinkan hidup oleh Yang Mahakuasa. Bahwa dalam hidup ini semua orang pasti punya masalah, walaupun bentuknya beda-beda tetapi toch masalah adalah bagian dari setiap manusia. Dan yang harus diingat bahwa di balik masalah pasti ada jalan keluar, di balik hujan pasti ada mentari. Dan tak selamanya mendung itu kelabu (he ... he ... he ... itukan lirik lagu yang populer tahun 80 an).

Dia harus terus melangkah (kata Ariel - Peterpan) menapaki terjalnya jalan kehidupan ini, dan bila dia sabar dan tekun maka ada saatnya akan menikmati "kemenangan" dan jangan lupa pasrahkan hidupmu pada Allah Yang Mahakuasa. Semoga suatu ketika suaminya sadar dan kembali pada mereka. Karena itu saya meminta agar dia tidak membencinya, tetapi mendoakannya agar Allah membukakan hatinya hingga sadar dari kekeliruan yang telah dilakukannya. Sebab kebencian akan menghalanginya untuk maju dan akan jauh dari kedamaian hati.

Memang untuk beberapa saat saya sempat mencarikan "donatur" yang bisa menolong ibu itu, tetapi selanjutnya saya coba membantunya (maklum sayakan pembantu) mencarikan pekerjaan agar dia tidak terlalu kuatir terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. Syukurlah ada kenalan saya yang memberikan pekerjaan padanya.

Ketika tulisan ini di buat ibu itu sudah tenang dan dengan gaji yang secukupnya dia tetap menapaki pahit-manisnya hidup ini. Memang suaminya belum kembali tetapi saya mengingatkannya untuk tetap pasrah pada Allah dan terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari.

"BUMI YANG TERUS BERPUTAR MEMBERIKAN HARAPAN KEPADA KITA BAHWA MALAM AKAN BERGANTI SIANG, DAN BILA SIANG TELAH MENJELANG BERSIAPLAH MEMASUKI MALAM. JANGAN TAKUT DAN JANGAN GELISAH NIKMATILAH KEDUANYA DENGAN MENGALIR SEIRAMA PUTARAN BUMI INI - NISCAYA BATIN KITA KAN TENANG MENGHADAPINYA."

Senyum dan Tangis

Suatu ketika seorang ibu berumur kira-kira 30 tahunan datang kepada saya, sambil menangis ia menceritakan masalahnya. Suaminya baru saja pergi meninggalkan rumahnya (lari) setelah beberapa kali melepaskan bogem mentah ke wajahnya.

Dalam satu jam percakapan (kurang-lebih), saya mencoba mengorek apa yang menjadi dasar permasalahan. Ternyata akarnya adalah uang. Memang uang dapat membuat seseorang tersenyum bahagia tak terkira, tetapi uang juga dapat membuat seseorang menangis tersedu-sedu.

Rupanya suaminya melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) karena sang isteri salah mengelola keuangan keluarga. Ia terlalu boros, juga terpengaruh mengikuti pola hidup "modern" seperti teman-temannya. Apa yang ibu ini alami adalah bagian dari kesalahannya, tetapi yang menjadi persoalan adalah bentuk "hukuman" yang dilakukan sang suami telah melampaui batas.

Langkah yang terbaik bagi ibu ini adalah 'BERTOBAT' atau meninggalkan kebiasaan buruknya. Memang perlu usaha yang keras untuk berubah, tetapi tidak ada kata terlambat. Sebab bila ada keinginan yang kuat dari dalam hati maka pasti ada jalan keluarnya. Dan bagi sang suami, mengontrol emosi adalah langkah yang tepat agar biduk rumah tangganya dapat kembali berlayar mengarungi lautan kehidupan. Niscaya Tangisan sang ibu dapat berubah menjadi senyuman yang yang menyejukkan jiwa.

"KETIKA MANUSIA BERLAKU BIJAK, MAKA SENYUM AKAN MENGHIASI HIDUPNYA. TETAPI KETIKA MANUSIA BERLAKU LIAR, MAKA TANGISAN SEDANG MENDEKATINYA"

Menyanyilah di Telinga Kakek


Ini adalah sebuah kisah nyata. Suatu ketika (sebut saja) pak Doni, isteri dan anak mereka yang berusia 3 tahun mudik alias pulang kampung. Maklum lagi kangen sama orang tua, padahal kesibukan di kota cukup banyak.

Mungkin karena cucunya sudah agak besar, atau mungkin saking rindunya pada sang cucu maka sang kakek merayunya untuk tidur bersama kakek dan neneknya, dan anehnya si anak mau mengikuti keinginan kakeknya.

Sekitar jam 21.00 si anak mulai ngantuk, akhirnya pertemuan keluarga itu (saling lepas rindu lewat ngobrol dan bercengkerama) harus diakhiri. Setelah semuanya terlelap dalam peraduan, tiba-tiba sekitar jam 24.00 si anak terbangun dan membangunkan sang kakek dan mengatakan kepadanya kalau ia ingin menyanyi.

Si kakek tersenyum sambil memeluk cucu yang disayanginya dan berkata "silahkan kamu menyanyi pelan-pelan di telinga kakek, supaya nenekmu dan semua yang sudah tertidur tidak terbangun." Si kakek yang matanya masih digelayuti rasa kantuk, sambil memejamkan matanya menunggu bisikan nyanyian dari sang cucu. Tiba-tiba si kakek meloncat karena terkejut ada air hangat yang membasahi telinganya. Betapa terkejutnya si kakek ketika melihat cucu sedang (maaf yah) mengencinginya. Ha ... ha ... ha ...

Rupanya kedua orang tua anak itu suka mengajari dengan memberikan istilah-istilah yang menurut mereka lebih halus pada hal-hal tertentu, seperti mau kencing diganti mau menyanyi, mau buang air besar diganti mau menari.

Si kakek menjadi korban "kreatifitas" dari pak Doni dan isterinya. Tapi walaupun demikian si kakek tetap merasa senang, dan menganggap peristiwa itu suatu lelucon saja. Kek ... kek "sial" amat nasibmu ! ... ?

"INDAHNYA HIDUP AKAN TERASA MANAKALA KITA MENGALIR SAJA MENGIKUTI ARUSNYA"