Minggu, 27 April 2008

Ketika Dia Pergi

Suatu malam, kira-kira jam 20.30 - saat saya sedang santai menonton TV - menjelang bobo, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata seorang ibu muda berusia kira-kira 30 tahunan datang untuk berkonsultasi.

Setelah saling mengenal dia mulai bercerita tentang apa yang dialaminya. Ada 2 hal yang menjadi inti dari ceritanya. Pertama, dia ditinggal oleh suaminya dan kini mengikuti wanita lain di kota yang lain dan sudah berlangsung selama 3 bulanan (qwacian dech lu ... ... sori). Kedua, dia kebingungan untuk memenuhi biaya hidupnya dan kedua anak mereka. Sebab selama ini segalanya bergantung dari suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik. Di pabrik itulah suaminya bertemu dengan wanita itu, dan kini mereka telah pergi ke kota yang lain.

Kedua hal itu sangat membebani hidupnya, sehingga berat badannya telah susut kurang lebih 12 kg. Dia sangat terpukul, sakit hati dan menjadi putus asa. Kadang terbersit dibenaknya untuk mengakhiri saja hidupnya, tetapi bayang-bayang kedua anaknya selalu menghantuinya, sehingga selalu niat itu terhempas dari benaknya.

Kami sempat tatap muka konsultasi selama 7 kali (bukan karena dia manis dan cukup menarik, tapi - kan udah tugas gue ... he ... he ... he ... ). Dan pada intinya saya mengingatkannya bahwa hidup ini memiliki nilai yang sangat tinggi, karena itu dia harus menghargai kesempatan ini selagi masih diizinkan hidup oleh Yang Mahakuasa. Bahwa dalam hidup ini semua orang pasti punya masalah, walaupun bentuknya beda-beda tetapi toch masalah adalah bagian dari setiap manusia. Dan yang harus diingat bahwa di balik masalah pasti ada jalan keluar, di balik hujan pasti ada mentari. Dan tak selamanya mendung itu kelabu (he ... he ... he ... itukan lirik lagu yang populer tahun 80 an).

Dia harus terus melangkah (kata Ariel - Peterpan) menapaki terjalnya jalan kehidupan ini, dan bila dia sabar dan tekun maka ada saatnya akan menikmati "kemenangan" dan jangan lupa pasrahkan hidupmu pada Allah Yang Mahakuasa. Semoga suatu ketika suaminya sadar dan kembali pada mereka. Karena itu saya meminta agar dia tidak membencinya, tetapi mendoakannya agar Allah membukakan hatinya hingga sadar dari kekeliruan yang telah dilakukannya. Sebab kebencian akan menghalanginya untuk maju dan akan jauh dari kedamaian hati.

Memang untuk beberapa saat saya sempat mencarikan "donatur" yang bisa menolong ibu itu, tetapi selanjutnya saya coba membantunya (maklum sayakan pembantu) mencarikan pekerjaan agar dia tidak terlalu kuatir terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. Syukurlah ada kenalan saya yang memberikan pekerjaan padanya.

Ketika tulisan ini di buat ibu itu sudah tenang dan dengan gaji yang secukupnya dia tetap menapaki pahit-manisnya hidup ini. Memang suaminya belum kembali tetapi saya mengingatkannya untuk tetap pasrah pada Allah dan terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari.

"BUMI YANG TERUS BERPUTAR MEMBERIKAN HARAPAN KEPADA KITA BAHWA MALAM AKAN BERGANTI SIANG, DAN BILA SIANG TELAH MENJELANG BERSIAPLAH MEMASUKI MALAM. JANGAN TAKUT DAN JANGAN GELISAH NIKMATILAH KEDUANYA DENGAN MENGALIR SEIRAMA PUTARAN BUMI INI - NISCAYA BATIN KITA KAN TENANG MENGHADAPINYA."

Tidak ada komentar: