Minggu, 27 April 2008

Senyum dan Tangis

Suatu ketika seorang ibu berumur kira-kira 30 tahunan datang kepada saya, sambil menangis ia menceritakan masalahnya. Suaminya baru saja pergi meninggalkan rumahnya (lari) setelah beberapa kali melepaskan bogem mentah ke wajahnya.

Dalam satu jam percakapan (kurang-lebih), saya mencoba mengorek apa yang menjadi dasar permasalahan. Ternyata akarnya adalah uang. Memang uang dapat membuat seseorang tersenyum bahagia tak terkira, tetapi uang juga dapat membuat seseorang menangis tersedu-sedu.

Rupanya suaminya melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) karena sang isteri salah mengelola keuangan keluarga. Ia terlalu boros, juga terpengaruh mengikuti pola hidup "modern" seperti teman-temannya. Apa yang ibu ini alami adalah bagian dari kesalahannya, tetapi yang menjadi persoalan adalah bentuk "hukuman" yang dilakukan sang suami telah melampaui batas.

Langkah yang terbaik bagi ibu ini adalah 'BERTOBAT' atau meninggalkan kebiasaan buruknya. Memang perlu usaha yang keras untuk berubah, tetapi tidak ada kata terlambat. Sebab bila ada keinginan yang kuat dari dalam hati maka pasti ada jalan keluarnya. Dan bagi sang suami, mengontrol emosi adalah langkah yang tepat agar biduk rumah tangganya dapat kembali berlayar mengarungi lautan kehidupan. Niscaya Tangisan sang ibu dapat berubah menjadi senyuman yang yang menyejukkan jiwa.

"KETIKA MANUSIA BERLAKU BIJAK, MAKA SENYUM AKAN MENGHIASI HIDUPNYA. TETAPI KETIKA MANUSIA BERLAKU LIAR, MAKA TANGISAN SEDANG MENDEKATINYA"

Tidak ada komentar: