Minggu, 27 April 2008

Menyanyilah di Telinga Kakek


Ini adalah sebuah kisah nyata. Suatu ketika (sebut saja) pak Doni, isteri dan anak mereka yang berusia 3 tahun mudik alias pulang kampung. Maklum lagi kangen sama orang tua, padahal kesibukan di kota cukup banyak.

Mungkin karena cucunya sudah agak besar, atau mungkin saking rindunya pada sang cucu maka sang kakek merayunya untuk tidur bersama kakek dan neneknya, dan anehnya si anak mau mengikuti keinginan kakeknya.

Sekitar jam 21.00 si anak mulai ngantuk, akhirnya pertemuan keluarga itu (saling lepas rindu lewat ngobrol dan bercengkerama) harus diakhiri. Setelah semuanya terlelap dalam peraduan, tiba-tiba sekitar jam 24.00 si anak terbangun dan membangunkan sang kakek dan mengatakan kepadanya kalau ia ingin menyanyi.

Si kakek tersenyum sambil memeluk cucu yang disayanginya dan berkata "silahkan kamu menyanyi pelan-pelan di telinga kakek, supaya nenekmu dan semua yang sudah tertidur tidak terbangun." Si kakek yang matanya masih digelayuti rasa kantuk, sambil memejamkan matanya menunggu bisikan nyanyian dari sang cucu. Tiba-tiba si kakek meloncat karena terkejut ada air hangat yang membasahi telinganya. Betapa terkejutnya si kakek ketika melihat cucu sedang (maaf yah) mengencinginya. Ha ... ha ... ha ...

Rupanya kedua orang tua anak itu suka mengajari dengan memberikan istilah-istilah yang menurut mereka lebih halus pada hal-hal tertentu, seperti mau kencing diganti mau menyanyi, mau buang air besar diganti mau menari.

Si kakek menjadi korban "kreatifitas" dari pak Doni dan isterinya. Tapi walaupun demikian si kakek tetap merasa senang, dan menganggap peristiwa itu suatu lelucon saja. Kek ... kek "sial" amat nasibmu ! ... ?

"INDAHNYA HIDUP AKAN TERASA MANAKALA KITA MENGALIR SAJA MENGIKUTI ARUSNYA"

Tidak ada komentar: