
Suatu ketika seorang gadis manis berwarna kulit kuning langsat dating berkonsultasi. Sepintas melihat wajahnya – nampakseperti tidak ada beban atau masalah yang menggelayuti hidupnya. Tetapi ternyata benarlah ungkapan “dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu (bukan tempe ha … ha … ha …).
Hal itu terbukti ketika kira-kira 3 menit kami melewati basa-basi dan sekadar pendahuluan, tiba-tiba dia berteriak sangat keras. Sontak saya terkejut dan bergerak secara refleks – untung saja tak ada yang melihat keterkejutanku, bila ada yang melihat pasti terpingkal-pingkal (minimal tersenyum geli). Ternyata di dalam hatinya telah membuncah tekanan yang telah meradang dan sangat menyakitkan.
Pasalnya; dia ditekan oleh kedua orang tuanya untuk segera berpisah dengan pacarnya. Sementara pada saat itu dia sedang berbadan dua alias HAM (Hamil Akibat Mesum, he … he … he …). Dan juga dia sangat mencintai pacarnya itu (ia dong kalo nggak cinta mana mau dihamili). Padahal orang tuanya mengetahui kehamilannya itu, tetapi mereka tidak mau peduli, karena mereka sangat tidak menyukai kekasihnya itu.
Menghadapi kenyataan demikian, maka menurut gadis itu, jalan terbaik adalah bunuh diri – tak ada jalan yang lain. Sontak saya terkejut tapi tidak refleks seperti tadi. Untunglah dia sempat “sharing” dengan temannya dan disarankan bertemu dengan saya. Karena itu dia datang mohon bantuan untuk mencari jalan keluar yang lain (maklum kerjaan sayakan pembantu).
Singkat cerita, saya berusaha menyadarkannya dan mengingatkan bahwa apa yang telah terlanjur terjadi atas dirinya memang merupakan suatu kesalahan jika dipandang dari nilai-nilai moral dan agama yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat kita. Kamu harus menerima kenyataan itu dan segala konsekuensinya. Tetapi di balik semua itu, ada jalan keluarnya. Ada cahaya yang siap menerangi kehidupanmu. Kamu harus mengakui kesalahanmu dan memohon ampun pada Tuhan (bertobat), dan pada kedua orang tuamu. Semoga ketenangan akan mampir dalam jiwamu. Soal Kedua orang tuamu, nanti akan saya temui dan coba berdiskusi dengan mereka.
Ada 3 kali pertemuan konsultasi dengan gadis itu, dan 2 kali berdialog dengan kedua orang tuanya. Untunglah (puji syukur kepada Allah) semuanya berjalan baik dan “hapy ending”.
Ketika tulisan ini dibuat, gadis itu telah menikah dan direstui oleh orang tua mereka (kedua belah pihak), dan bahkan dia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang cakep – mirip dengan saya. Maaf maksud saya mirip dengan bapaknya dong.
“SELAMA MASIH ADA ANGIN YANG BERHEMBUS, MAKA AWAN HITAMPUN MASIH DAPAT TERSINGKIR”
Hal itu terbukti ketika kira-kira 3 menit kami melewati basa-basi dan sekadar pendahuluan, tiba-tiba dia berteriak sangat keras. Sontak saya terkejut dan bergerak secara refleks – untung saja tak ada yang melihat keterkejutanku, bila ada yang melihat pasti terpingkal-pingkal (minimal tersenyum geli). Ternyata di dalam hatinya telah membuncah tekanan yang telah meradang dan sangat menyakitkan.
Pasalnya; dia ditekan oleh kedua orang tuanya untuk segera berpisah dengan pacarnya. Sementara pada saat itu dia sedang berbadan dua alias HAM (Hamil Akibat Mesum, he … he … he …). Dan juga dia sangat mencintai pacarnya itu (ia dong kalo nggak cinta mana mau dihamili). Padahal orang tuanya mengetahui kehamilannya itu, tetapi mereka tidak mau peduli, karena mereka sangat tidak menyukai kekasihnya itu.
Menghadapi kenyataan demikian, maka menurut gadis itu, jalan terbaik adalah bunuh diri – tak ada jalan yang lain. Sontak saya terkejut tapi tidak refleks seperti tadi. Untunglah dia sempat “sharing” dengan temannya dan disarankan bertemu dengan saya. Karena itu dia datang mohon bantuan untuk mencari jalan keluar yang lain (maklum kerjaan sayakan pembantu).
Singkat cerita, saya berusaha menyadarkannya dan mengingatkan bahwa apa yang telah terlanjur terjadi atas dirinya memang merupakan suatu kesalahan jika dipandang dari nilai-nilai moral dan agama yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat kita. Kamu harus menerima kenyataan itu dan segala konsekuensinya. Tetapi di balik semua itu, ada jalan keluarnya. Ada cahaya yang siap menerangi kehidupanmu. Kamu harus mengakui kesalahanmu dan memohon ampun pada Tuhan (bertobat), dan pada kedua orang tuamu. Semoga ketenangan akan mampir dalam jiwamu. Soal Kedua orang tuamu, nanti akan saya temui dan coba berdiskusi dengan mereka.
Ada 3 kali pertemuan konsultasi dengan gadis itu, dan 2 kali berdialog dengan kedua orang tuanya. Untunglah (puji syukur kepada Allah) semuanya berjalan baik dan “hapy ending”.
Ketika tulisan ini dibuat, gadis itu telah menikah dan direstui oleh orang tua mereka (kedua belah pihak), dan bahkan dia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang cakep – mirip dengan saya. Maaf maksud saya mirip dengan bapaknya dong.
“SELAMA MASIH ADA ANGIN YANG BERHEMBUS, MAKA AWAN HITAMPUN MASIH DAPAT TERSINGKIR”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar